Selain memiliki kesamaan dalam hal kekayaan yang disimpan di bank, para miliuner juga memiliki kesamaan yang lain, yakni cara mereka berpikir. Berikut adalah beberapa sifat yang sama-sama mereka miliki. Anda pun dapat menerapkan sifat-sifat tersebut untuk mencapai tujuan hidup Anda sendiri.
1. Pikiran yang merdeka
Cara miliuner berpikir cenderung berbeda ketimbang orang kebanyakan. Mereka memikirkan segalanya. Kebanyakan kita berpikir bagaimana agar bisa masuk ke jalur yang sama, bahkan mengeluarkan uang dan usaha ekstra untuk bisa sejalur dengan orang lain. Misalnya, dalam pemilihan jalur pendidikan, harus di universitas tertentu, harus bekerja di bawah perusahaan ternama, dan sebagainya. Namun, tidak dengan para miliuner. Mereka justru menciptakan jalur baru sendiri.
Pikiran berimbas pada aksi, orang-orang yang ingin menjadi kaya akan harta harus berpikir bagaimana cara untuk mencapai gol tersebut. Berpikir merdeka bukan berarti mereka melakukan sebaliknya dari apa yang dikerjakan oleh orang lain. Namun, lebih kepada memiliki keberanian untuk mengikuti apa yang penting untuk Anda sendiri. Intinya, bagaimana membangun jalan Anda sendiri, dan biarkan sukses membawa Anda kepada kemerdekaan finansial. Agar uang datang kepada Anda, bukan Anda yang diperbudak oleh uang.
2. Visi
Umumnya, para miliuner adalah orang-orang kreatif dengan sikap positif. Dengan kata lain, orang-orang kaya tak hanya memiliki mimpi besar, mereka juga percaya bahwa mimpi akan menjadi kenyataan. Dengan begitu, bagi mereka yang mencari kekayaan, sebaiknya menentukan gol dan tak takut akan wilayah yang belum pernah dijamah.
Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia, melakukan hal ini. Pimpinan Microsoft ini adalah salah satu wiraswastawan yang membawa komputer ke hadapan perorangan dan membuatnya menjadi massal. Gates memasuki dunia komputer di tahun 1975 dan berpegang erat pada bidang itu. Ia kemudian menciptakan Microsoft Windows di tahun 1985. Ketika para konsumen membawa komputer ke rumahnya, Gates pun mulai menangguk keuntungan yang tak ada hentinya.
3. Keahlian
Umumnya, para miliuner menggunakan kemampuan terkuatnya untuk memulai usaha mereka. Mereka akan berkonsentrasi dengan keahlian mereka. Lalu mereka akan merekrut orang-orang yang mampu mengisi kekurangan mereka. Jika Anda belum mengetahui kekuatan mereka, buatlah semacam polling di antara orang terdekat untuk mengetahuinya. Lalu perkuat kembali kekuatan Anda dengan kursus atau pelatihan khusus.
4. Gairah
Warren Buffet, ahli investasi, mengatakan bahwa “Uang adalah produk dari sesuatu yang saya kerjakan.” Menyenangi pekerjaan Anda memberikan Anda sebuah disiplin untuk bekerja keras setiap harinya. Menemukan pekerjaan impian memang butuh waktu dan proses. Kebanyakan miliuner malah baru menemukan gairah mereka di umur 45 tahun, rata-rata di usia 54 tahun. Ada sebuah buku yang mengatakan bahwa setidaknya para miliuner ini mengalami rata-rata kegagalan setidaknya 17 kali sebelum mereka benar-benar sukses. Jadi, jika Anda berencana untuk menjadi miliuner, berhentilah mengerjakan hal yang tak Anda sukai, mulailah membangun usaha dari apa yang Anda sukai. Jika Anda belum menemukan apa yang Anda suka untuk lakukan, terus cari hingga Anda menemukannya.
5. Investasi
Para miliuner berani mengorbankan waktu dan uang mereka untuk mencapai gol. Mereka berani mengambil risiko sekarang untuk kesempatan mencapai sesuatu yang lebih baik di masa mendatang. Berinvestasi bisa mencakup dalam sekuritas atau membangun sebuah usaha. Ini merupakan sebuah langkah maju untuk menciptakan sebuah penghasilan. Mulailah berinvestasi sekarang.
6. Persuasif
Jika Anda sudah memiliki produk atau usaha yang bisa dikembangkan, saatnya untuk mempresentasikannya di hadapan orang lain. Penjual (salesman) yang bagus sangat senang mendapatkan kritik atau sanggahan. Dengan kata lain, mereka tak akan menerima jawaban "tidak". Para miliuner pun memiliki kemampuan sosial yang bagus. Malah, dalam bukunya yang berjudul Secrets of the Millionaire Mind, T Harv Eker menemukan bahwa kemampuan untuk bersosialisasi lebih tinggi dari IQ kebanyakan para miliuner. Contohnya saja Donald Trump, kekayaannya terus berfluktuasi, namun kemampuannya untuk "menjual diri" lewat acara televisi maupun lainnya membuatnya selalu kembali menjadi miliuner terkenal.
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain amat penting untuk menjajakan ide Anda. Sebagai seseorang yang akan menjual ide, kejujuran pun penting artinya. Jika Anda ingin menjadi seorang miliuner, jujurlah dan kembangkan kemampuan sosial Anda.
Menjadi seorang miliuner bukanlah hal yang bisa dicapai dalam semalam. Malahan, banyak miliuner membangun "kerajaan" mereka dalam waktu tahunan (bahkan beberapa generasi). Mereka membangunnya dengan melakukan keputusan-keputusan yang berani, menggunakan keahlian mereka sebaik mungkin, dan terus berusaha mengejar visi mereka. Kekayaan para miliuner ini bukanlah sesuatu yang membedakan mereka dari kebanyakan kita, namun cara dan bagaimana mereka mencapai kekayaan itulah yang membuat mereka berbeda dari kebanyakan orang.
Meskipun ajakan untuk menabung sudah kita dengarkan sejak masih di bangku SD, ternyata hingga sekarang masih banyak orang yang tak mempunyai tabungan. Yang dimaksud di sini bukan orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, lho. Mereka yang memiliki pekerjaan tetap dan gaya hidup yang cukup mewah ternyata banyak yang saldo rekeningnya di akhir bulan hanya tersisa ratusan ribu rupiah.
Di Amerika, 45 persen orang yang disurvei oleh lembaga asuransi MetLife mengaku tidak mampu membayar tagihan-tagihannya selama lebih dari sebulan andaikan mereka kehilangan pekerjaan. Sementara itu, 65 persennya mengatakan tak akan mampu menutupi pengeluarannya selama tiga bulan.
Tidak heran, dalam studi bertema "The American Dream" yang digelar pada 14-21 April lalu itu, sebanyak 55 persen orang Amerika juga amat khawatir mereka kehilangan pekerjaannya. Negara ini memang sedang berjuang untuk memulihkan diri dari resesi terburuk sejak masa The Great Depression yang terjadi pada 1929. Pada bulan Juni, 14,6 juta orang (atau 9,5 persen pekerja) kehilangan pekerjaan, demikian catatan Bureau of Labor Statistics. Sekitar setengah dari pekerja tersebut, atau 6,8 juta orang sudah menganggur selama enam bulan atau lebih.
Meskipun statistik tersebut terlihat mengkhawatirkan, para peneliti MetLife masih melihat secercah harapan. Menurut Beth Hirschhorn, Senior Vice President untuk global brand and marketing services di MetLife, sejak tahun lalu sebenarnya sudah terjadi perbaikan. "Satu-satunya yang menguntungkan adalah orang sudah menyadari hal ini dan membuat perubahan-perubahan," tukasnya.
Dalam studi yang diadakan MetLife terlihat bahwa orang Amerika sudah jauh lebih aktif daripada setahun sebelumnya dan lebih fokus dalam memperbaiki tanggung jawab finansialnya. Tiga perempat orang Amerika dilaporkan sudah mengurangi pengeluaran dan lebih banyak orang yang mengakui bahwa dengan bertanggung jawab secara finansial, mimpi Amerika itu bisa tercapai.
Meskipun begitu, masih ada jutaan orang Amerika yang berjuang secara finansial. Hampir separuh dari mereka yang disurvei mengatakan bersedia memberikan uang kepada anggota keluarga supaya dapat membayar tagihan-tagihannya. Ini artinya, banyak orang Amerika yang mengandalkan "bank keluarga" untuk bertahan dalam resesi. "Pinjaman ini adalah pinjaman seumur hidup," katanya.
Yang perlu dicermati, walaupun mereka sudah berusaha mengubah kebiasaan berbelanja atau gaya hidupnya, perbaikan yang diinginkan tersebut tak bisa segera tercapai. Hal ini disebabkan mereka juga masih terlibat utang yang banyak jumlahnya, di samping kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Jadi, sebelum Anda mengalami masalah yang sama, segeralah menurunkan gaya hidup sesuai kemampuan dan sisihkan uang untuk ditabung.